Thursday, September 25, 2014

Kabar Baik buat Para Mahasiswa, Peneliti, dan Peminat Studi Humor




Oleh Odios Arminto

Humor itu energi budaya. Keberadaannya dirasakan umat manusia di seluruh jagad raya. Ia menyelinap, mengendap-endap dan menyatu ke dalam urat nadi tradisi dan kehidupan manusia. Terekspresi dalam kehidupan sehari-hari. Dirasakan manfaatnya oleh kita semua.
Dalam ungkapan yang lain, humor menembus fungsi ke seluruh bidang yang mau mengakomodasinya. Sehingga tak pelak, ia dapat dikaji dengan pendekatan multidisiplin ilmu dan multiprofesi.

Apa yang tak bisa diwacanakan humor? Dari filsafat, budaya, masalah sosial, politik, ekonomi, hingga bahkan agama. Hanya saja, humor yang asasinya bersifat netral dan tak berpretensi, dengan kepintaran manusia, ia dapat dijadikani senjata untuk kepentingan-kepentingan pragmatis sempit.
Fitrahnya, humor itu tak mengenal justifikasi SALAH dan BENAR, karena humor memang tidak perlu pembuktian. Hal terpenting yang diapresiasi dalam humor adalah LUCU dan TIDAK LUCU.  Di situlah martabat dan nilai “ideologi” humor dikaji, diapresiasi dan diperdebatkan; namun karena nilai-nilai sosial masyarakat berbeda-beda (etika), maka gesekan-gesekan persepsi bisa terjadi, sehingga estetika dasar harus mengalah pada dominasi etika.

Namanya humor, atau katakanlah atas nama humor, semua lalu dapat menjadi bahan humor (lelucon) itu sendiri. Dalam konteks inilah pentingnya humor dikaji dan diteliti. Mengapa humor di suatu tempat sangat diapresiasi bahkan dipuji, di tempat lain justru dicaci-maki. Mengapa orang terntentu merespon sebuah humor sambil ketawa riang gembira, sementara bagi orang lain justru membuatnya sangat tersinggung dan kemudian marah habis-habisan alias kebakaran jenggot.

Dalam konteks politik, apa yang ditulis Darminto M Sudarmo (dms), praktisi dan pengamat humor, dalam bukunya Humor untuk Orang-orang Terpelajar, ia menulis.

Humor Politik
Park Chung Hee, 1917-1979, bekas pemimpin diktator Korea Selatan, pernah mengatakan, “Seharusnya tidak ada sensor untuk humor; karena humor itu, ibarat perlawanan, sudah upaya paling akhir.” 

Ketika kasus Watergate merebak di Amerika Serikat, karikatur tentang Presiden Nixon muncul di hampir semua koran Amerika. Ada sebuah koran yang menggambarkan Nixon tampak sebagai tertuduh, namun di sisi lain, hakim, para juri, pembela, penuntut dan pengunjung sidang, semua berwajah dan bertampang Nixon. Begitu juga ketika Clinton tersenggol kasus yang mencemarkan nama baiknya; koran Amerika bersikap tak kalah edan-edanan. 

Tetapi yang menarik, baik Nixon maupun Clinton sama-sama membuktikan bahwa mereka tidak pernah ribut soal dirinya yang jadi bulan-bulan humoris Amerika. Tak kurang lelucon yang benar-benar “gila” juga meramaikan udara segar negeri yang mengaku paling bisa memberikan jaminan bagi rakyatnya untuk berdemokrasi. Bagi demokrat sejati, bereaksi marah terhadap humor atau lelucon sama halnya bikin malu dirinya sendiri. Kriteria seseorang bisa disebut demokrat atau tidak, salah satunya bisa diukur dari mampu tidaknya ia menertawakan kekurangan, ketololan, kesialan dan ketidakjujuran dirinya sendiri.

 Bukan rahasia lagi, humor selalu memposisikan diri pada semangat menelanjangi keagungan artifisial, keagungan yang pura-pura. Segala yang tidak jujur, yang dibikin-bikin, yang membodohi orang, bakal dibuka dan orang lain langsung tertawa; sebuah reaksi yang wajar dan manusiawi. Tetapi humor yang bertanggung jawab juga punya kesembodoan; ia tidak tergelincir pada fitnah dan penyerangan membabi buta yang biasanya mengabaikan estetika dan “akurasi”.

Untuk menghormati salah seorang yang pernah sangat populer dan menggegerkan di bumi Pertiwi tercinta ini, saya selaku penghimpun lelucon yang pernah beredar sangat santer di masyarakat memohon izin dan perkenanan kepada Paduka Yang Mulia Bapak “Pembangunan” kita yang tiada lain daripada Mister Soeharto, agar kiranya anak cucu daripada kita sekalian memperoleh intisari pelajaran daripada yang beliau telah pernah perbuat kepada negeri daripada yang kita cintai ini. Agar kiranya mereka, anak cucu daripada kita, bisa mengambil pelajaran berharga, kalau ada pelajarannya, dan menjadikan semua yang terjadi biarlah terjadi. Tiada dendam, tiada stigma ini-stigma itu, tiada pamirh demi keuntungan politik dan lain-lain daripada rakyat dan bangsa ini. Soeharto is Soeharto; however, he is a very brilliant political actor that we have ever seen

Mengapa ini perlu kita ketengahkan? Karena sebagian di antara Lelucon daripada Presiden etc! ini juga mengangkat masalah-masalah yang dikaitkan dengan nama daripada beliau. Selain daripada itu, buku ini juga memuat daripada lelucon presiden dari benua lain; pokoknya cukup bervariasi dan yang pasti, ramai!

Akhirnya, (demikian dms) sebagai kolektor lelucon, saya berharap Anda memperoleh sesuatu yang berguna; minimal untuk jadi bahan guyonan atau mungkin renungan; bagaimanapun humor adalah humor. Ia punya konteks realitas dan akurasi tersendiri, yaitu realitas dan akurasi humor. Bukan lainnya! 

Studi Humor di Indonesia
Kembali tentang studi humor. Ada anak bangsa ini, Danny Septriadi namanya, yang bermula dari minat dan kebutuhannya sendiri, ia mengoleksi satu dua buku baik terbitan dalam negeri maupun luar negeri. Tahun demi tahun ia menambah koleksinya. Membaca dan mencermati isinya dengan lahap, tak terasa dalam bilangan sekian tahun, koleksinya sudah meledak sekitar 700-an buku dan media lain (CD, DVD) serta produk audiovisual lainnya. Menurut penuturannya, ke depan besar kemungkinan koleksinya bisa bertambah hingga 1000-an, bila buku-buku baru juga hadir dan menyemarakkan wacana perhumoran nasional/internasional.

Pertanyaannya,  untuk apa koleksi sebanyak itu? Apakah cukup ia hanya bermanfaat bagi Danny seorang? Ternyata tidak. Danny berharap, masyarakat luas, baik dari mahasiswa, peneliti, peminat multidisiplin ilmu, multiprofesi, dapat memetik manfaat dari buku itu. 

Untuk memberikan gambaran secara menyeluruh, ia bersama Darminto M Sudarmo dan Seno Gumira Ajidarma (tiga komisioner sableng) membuat perpustakaan maya atau rak buku random yang bisa diakses oleh masyarakat luas di ihik3.com. Ihik itu akronim dari Studi Humor Indonesia Kini. Mengapa ada angka 3 di belakang kata ihik. 

Pertama, orang ketawa setidaknya berbunyi: ihik-ihik-ihik. Kalau  ketawa hanya berbunyi: ihik, bisa jadi ia bukan sedang ketawa, tapi justru sedang tersedak atau ada tulang ayam nyangkut di tenggorokannya. Kedua, angka 3 itu sebagai tanda ada tiga orang “sableng” yang nekad membuat kawasan studi sebuah ilmu penting tapi dinafikan atau belum dilirik oleh anak bangsa sendiri, jadi wajar kalau mereka dikatakan seperti orang yang kurang kerjaan saja. Tapi mereka berpendapat, sekarang studi humor memang belum nge-trend, tapi suatu saat nanti kalau masyarakat sudah tahu ada wahana untuk itu, pastilah everything will be going…. rush! 

Bangsa hebat adalah bangsa yang memiliki kecerdasan dan rasa humor yang baik.

No comments:

Post a Comment