Wednesday, October 29, 2014

Mengapa Terjadi Kemerosotan Lawak di Indonesia?

warkop
Grup Lawak Warkop – plus Nanu Mulyono

Oleh Odios Arminto

Tak mudah menjawab pertanyaan di atas. Yang dapat dilakukan hanya adanya rasa kesal dan gemas karena kemerosotan yang ada begitu signifikan dan tak terbantahkan. Bagi anda yang pernah menjadi saksi bagaimana dunia lawak di tahun akhir 1970-an hingga 1990-an, dapat merasakan betul perbedaan yang ada.
Antara akhir tahun 1970-an hingga ujung tahun 1985-an, di Jakarta, di bawah bendera Lembaga Humor Indonesia (LHI) pimpinan Arwah Setiawan, dunia lawak (bahkan event seni humor secara umum) begitu bergairah dan tumbuh subur. Berbagai festival lawak dan seni humor (termasuk lomba kartun, musik, tari, pidato dan lain-lain) begitu membahana dan menyedot perhatian masyarakat secara nasional. Dari lomba musik humor itulah, salah satunya, LHI menjadi “ibu momentum” lahirnya musikus kelas legenda, Iwan Fals.

Wednesday, October 22, 2014

Menyiapkan Materi Lucu untuk Stand Up Comedy

bombproof
Oleh Odios Arminto

Menyiapkan materi lucu untuk Stand Up Comedy (SUC) adalah kegiatan menulis atau mengonsep materi yang berbeda dengan kegiatan menulis lainnya; seperti menulis cerpen, cerita bersambung, novel, dan lain-lain. Materi lucu untuk SUC, sedapat mungkin, pendek-pendek saja tapi mengena. Semacam opini pendek yang lucu.

Opini pendek lucu ini dapat disusun sesuai pilihan sang komik sendiri. Disesuaikan dengan stilisasi gaya dan kecocokan sang individu. Seperti kita ketahui bersama, SUC adalah sebuah bentuk entertainment di mana seorang komedian tampil di depan live audience. Umumnya komedian menampilkan lelucon sehari-hari yang telah dibangun sebelumnya lewat penggiringan ingatan penonton (set up – punch line) pada topik-topik yang dibahas, untuk kemudian sampai pada titik ledak kelucuan.
Kelucuan-kelucuan tersebut umumnya disampaikan lewat berbagai teknik, setidaknya ada 25 teknik yang dapat dipilih, namun komedian hanya memilih beberapa saja; di antaranya call back, one liner, rule of three, dan lain-lain.

10 Tips untuk Komedian Pemula

mo-sidik

Tak ada hal yang paling menakutkan (bagi comic pemula) selain rasa khawatir akan gagal dalam suatu perform. Bukan soal demam panggung, bukan soal keraguan akan materi yang kurang nendang, bukan juga soal calon penonton yang kelewat cerdas atau kurang nyambung. Persoalannya adalah kekhawatiran yang menyergap ke dalam diri sendiri, yang kemudian menggerogoti rasa percaya diri. Kekhawatiran ini akan berkurang jika anda mencoba tip-tip berikut ini.

Sunday, October 19, 2014

13 Pantangan yang Harus Dihindari Komedian


Odios Arminto
Oleh Odios Arminto

Pantangan atau pamali itu bukan reka-rekaan. Ia bisa benar, bisa juga hanya sekadar peringatan awal agar kita terhindar dari suatu bahaya. Contohnya, kalau kalian naik gunung berapi, hindari berada di posisi atau arah angin bertiup, karena asap beracun yang berasal dari kawah bisa mendatangkan maut.
Begitu juga dengan profesi komedian atau pelawak atau comic. Profesi ini sebaiknya juga jangan terlalu sering naik gunung berapi, apalagi pake nyoba-nyoba nyemplung ke dalam kawah yang panas dan menggelora, dijamin kelucuannya akan hilang.

Tuesday, October 14, 2014

Demokrasi Mau Di-Democrazy-kan? No Way!

1413226477497606556
Kartun Non-O



Oleh Odios Arminto

Kartunis kawakan Non-O (Sudi Purwono) orangnya low profile banget. Ia seperti air danau. Tenang dan cool habis. Begitu anda menyuguhkan nasi panas, petai rebus/goreng, dengan sambal terasi yang menggugah selera, ia juga akan menyambutnya dengan reaksi tetap tenang. Tapi begitu anda meleng sedikit, misal ke wastafel untuk cuci tangan atau cuci muka, anda balik lagi ke meja, anda akan kaget. Apa yang terhidang di meja, kalau beruntung tinggal separo, atau kalau tidak beruntung ya, sudah habis tandas.
Itu gambaran karikatural tentang sosok kartunis yang sudah berkarya lebih dari 25 tahun. Berbagai prestasi sudah diraihnya. Ia pernah bergabung dengan Harian Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Kompas, majalah Kartini (Grup) dan beberapa lainnya. Non-O tetap tenang, tetap seperti yang dulu. Tetap awet muda. Tetap punya personality khas. Khususnya dalam berlelucon dengan teman-teman sesama seniman.

Sunday, October 12, 2014

Lontong…Lontong!! Kembalikan Cak Tolong!!!


Oleh Odios Arminto

Melihat format ILK (Indonesia Lawak Klub) belakangan, kok seperti ada yang bergeser dari format sebelumnya. Gimana gitu. Tidak terstruktur, sistematis dan masif lagi. Tema yang dipilih biasanya tajam dan dialogis. Lha kok yang baru-baru terasa mengambang. Potongan kalimat, tanpa makna utuh. Lalu eksplorasi yang terjadi mengembangbiak tanpa kendali. Dan mending kalau lucu, tapi yang terjadi adalah spekulasi spontanitas, yang kadang garing kerontang-kering kemarau.

Duhai ILK, kembalilah ke saat-saat di mana Cak Lontong dapat porsi yang memadai untuk mengaduk-aduk imajinasi pemirsa lewat model survey, yang setahu saya, menjadi main product dari ILK. Atau segmen unggulan memikat. Saat yang ditunggu-tunggu para pemirsa.

Saturday, October 11, 2014

Ini Dia Revolusi Humor Jawaban untuk Indonesia

Kartun Non-O

Oleh: Odios Arminto


Saya tidak peduli apakah debat dengan Jokowi, Presiden Terpilih ini, nyata atau imajiner. Tidak penting amat. Pertemuan gagasan ini juga karena berangkat dari kegelisahan yang sama, ingin menyaksikan Indonesia maju, Indonesia yang top markotop. Gagasan Jokowi soal Revolusi Mental, Nawa Cita, tidak mengagetkan saya. Setengah abad yang lalu Jiddu Krisnhamurti, spiritualis dan guru dunia asal India yang tinggal di Inggris dan Amerika sudah ngomong soal itu. Kunci keberhasilan revolusi massa, dimulai dari revolusi individu.

Friday, October 10, 2014

Kisah yang Menyindir Orang Penting Negeri ini

Kartun: Non-O

Oleh Odios Arminto

Dua kisah berikut ini, yang pertama bercerita tentang keraguan dan keserakahan. Yang kedua, tentang kejujuran dan ketidakjujuran. Kalau anda cermati, pesan penting yang tertuang dalam kisah-kisah tersebut seakan tidak istimewa amat, tetapi bila direnungkan secara mendalam, kisah-kisah berikut sungguh memuat makna yang demikian mengena. Setidaknya bagi kita yang mau peduli dan menghargai moral politik yang belum lama sempat mengharu-biru dan mengaduk-aduk perasaan rakyat seluruh negeri ini.

Thursday, October 9, 2014

Masa Depan KPU, Bawaslu dan Presiden Terpilih

Kartun Non-O - Joke: Odios

Tiga orang pengusaha tampak bernapas lega. Ketegangan sidang di MPR sudah berlalu. Salah seorang berkata, “Amankah hari-hari ke depan nanti?”
“Maksudmu? Memang masih ada ketegangan seri selanjutnya?” Tanya orang kedua.
“Bukan seri selanjutnya, hanya saja saya merasa agak tergelitik jika membayangkan ke depan,” sahut orang ketiga.
“Apa yang kau bayangkan?”
“Setelah kepala daerah dipilih oleh DPRD, bukan tak mungkin lho Presiden dipilih MPR. Aku Cuma ngebayangin nasib perusahaan Quick Count-ku….bakal gulung tikar.”
“Bukan Cuma itu, KPU, Bawaslu Pusat dan di seluruh daerah, mau ngerjain apa?”
“Jangan terlalu pesimis, dong,” sahut salah seorang yang dari tadi diam saja, “setidaknya masih ada pilihan Lurah dan pilihan Ketua RT….. dijamin tetap langsung dan tak ada yang berminat bikin RUU apalagi UU-nya!!!”

Wednesday, October 8, 2014

Friday Night Live Comedy – Contoh Naskah Stand Up Comedy


Ditulis oleh Darminto M Sudarmo dan Tri Agus Susanto Siswowiharjo – (15 April 2014) – bahan berdasarkan tema aktual yang muncul di media sosial pada bulan tersebut dengan teknik analisa melintir, mencang-mencong, dan kacaubalaulogis.

Lho! Mengapa bukan Saturday Night Live Comedy? Yang pertunjukannya dapat kita saksikan di berbagai kota metropolitan dunia pada Sabtu malam? Bukan! Pokoknya, haqul yakin, bukan! Karena pertunjukan bercorak galatama antara stand up comedy, monologue, joke telling, dan lain-lainnya ini diadakan pada Jumat malam. Selain bertabur materi-materi lelucon, sindiran dan gurauan, juga sesekali muncul aroma atau performa yang rada-rada horror. So, inilah laporan saya tentang pertunjukan Friday Night Live Comedy di sebuah kota besar, yang secara ideologis terpaksa harus saya rahasiakan.

Tuesday, October 7, 2014

Satu dari Ratusan Contoh Naskah Lawak yang Sering Nongol di TV

Kang Ibing, pemain utama

Banyak yang nanya seperti apa sih contoh naskah lawak yang sering nongol di TV? Supaya gak penasaran, ini salah satu contoh aja di antara ratusan naskah yang sering juga disebut outline story.
Isinya garis besar flow of direction. Juga pegangan buat petugas set, kostum, property, make up dan lain-lain. Meski singkat dan ringkas, cerita musti memiliki bangunan konflik, silang sisih persepsi antarpemain sehingga terjadi kesalahpahaman dan kekonyolan yang menggemaskan.
Kondisi itu penting agar pemain punya bekal dan imajinasi untuk mengeksplor diri. Kalau beruntung, naskah yang sederhana tapi dimainkan oleh pelawak-pelawak bagus, hasil pertunjukannya bisa sangat mengejutkan dan hidup. Ini sekadar contoh. Dalang wayang golek yang didaulat oleh produser dan sutradara untuk pegang kendali seluruh cerita dan berkolaborasi dengan pemain utama maupun bintang tamu adalah Ki Asep Sunandar Sunarya.

Monday, October 6, 2014

Dari Pelawak Mati Muda ke Seniman Bunuh Diri dan Metode Patch Adams

Searah jarum jam: Pelawak Gepeng, Robin Williams, dan dr Patch Adams

Oleh Odios Arminto

Misteri mengapa pelawak Indonesia banyak yang mati muda, masih jadi pertanyaan hingga kini. Mengapa di luar sana banyak seniman bunuh diri juga tinggal sebagai misteri. Berita tentang Rumah Sakit Jiwa Dr Radjiman Wediodingrat (RSJ Lawang) di Malang yang berencana menjadi rumah sakit jiwa pertama di Indonesia yang menerapkan metode seperti yang ada di film Patch Adams, mungkinkah dapat menjadi salah satu solusi bagi penderita kesehatan jiwa? Mari kita kaji satu persatu.
Santai aja. Jangan buru-buru. Tentang pelawak mati muda, berikut kita paparkan dialog yang ada di salah satu website.

Pertanyaan:
Kenapa para pelawak/komedian Indonesia banyak yg gak panjang umur? Tau sendiri kan, di dunia entertainment Indonesia, selebriti yang paling gak panjang umur tuh pelawak/komedian. Banyak yg meninggal di umur yg belum begitu tua. Tahun ini aja kita kehilangan 4 orang : Taufik Savalas, Asmuni, Big Dicky & Basuki.

Sunday, October 5, 2014

Apa Iya, Profesi Lucu, Makin Laku?


Oleh Odios Arminto

Mungkin anda setuju, mungkin juga tidak. Tidak apa. Profesi lucu, itu tergolong istimewa dan pastinya agak langka. Karena itu wajar kalau jumlahnya juga tidak banyak amat. Sebutlah misalnya badut, pelawak atau comic, kartunis, penulis gag, sineas film lucu, pencipta lagu kocak, pencipta tari jenaka, pembicara humoris, pemain pantomime, pegrafis meme, dan mungkin masih ada beberapa yang belum tersebutkan.

Saturday, October 4, 2014

“MANG UDEL” PURNOMO LOLOS KE “TRIO LOS GILOS”


Oleh Arwah Setiawan

SEBAGAIMANA Danny Kaye atau Bob Hope, maupun semua pelawak lainnya, Drs Purnomo atau “Mang Udel” atau “Mas Pung” sudah pernah dilahirkan. “Menurut ibu, beliau ingat benar saya lahir pada hari Kamis Legi, 7 Oktober. Padahal? Oktober Kamis Legi tahun 1923 itu tidak ada, yang ada tahun 1922. Jadi sebetulnya, di KTP saya setahun lebih muda dari yang sebenarnya.” Mengapa begitu? Ya embuh, wong kawit biyen, zaman Belanda sudah didaftar tahun 1923. Nggak tahu kesalahan siapa.”

Friday, October 3, 2014

Lucu itu Aneh, kata Teguh Srimulat


Oleh Odios Arminto

Hanya orang dengan kapasitas “empu” yang dapat menemukan definisi lelucon dengan kalimat yang demikian efisien dan mengena. Jam terbang empiris Teguh Srimulat yang panjang dan penghayatan mendalam pada profesi, telah membawanya tiba pada suatu pemikiran yang strategis ketika Srimulat bergerak dari grup sandiwara opera menuju ke grup sandiwara komedi.

“Lucu itu apa Pak Teguh?” Tanya anggota Srimulat.

“Lucu itu…aneh!” jawab Teguh Srimulat dengan tak menduga kalimat itu dapat meluncur begitu saja dari mulutnya.

Thursday, October 2, 2014

Mari Melek Sejarah Perlawakan Kita Sendiri


Oleh Odios Arminto

Sejarah literatur perlawakan Indonesia memang gelap. Beda dengan seni sastra, lukis, suara dan seni-seni elitis lainnya. Di masa lalu, seni berbasis humor atau lelucon, domainnya rakyat jelata. Para abdi atawa punakawan. Para bendara atau kaum priyayi umumnya, harus jaim. Tampil angker supaya berwibawa. Tidak berwibawa, uang kembali; eh, pamor sosialnya langsung jatuh.

Di masa kini, memang ada sedikit kemajuan. Ada apresiasi. Entah itu karena pelawak dihargai mahal atau masyarakat telah menyadari apa manfaat humor bagi kehidupan sehari-hari. Yang jelas, di berbagai Negara maju, seni berbasis humor menjadi primadona dan mendapatkan perhatian istimewa. Banyak pihak – multidisplin ilmu, multiprofesi – tertarik menggali dan mencoba menguak manfaat yang ada di baliknya.