Tuesday, October 7, 2014

Satu dari Ratusan Contoh Naskah Lawak yang Sering Nongol di TV

Kang Ibing, pemain utama

Banyak yang nanya seperti apa sih contoh naskah lawak yang sering nongol di TV? Supaya gak penasaran, ini salah satu contoh aja di antara ratusan naskah yang sering juga disebut outline story.
Isinya garis besar flow of direction. Juga pegangan buat petugas set, kostum, property, make up dan lain-lain. Meski singkat dan ringkas, cerita musti memiliki bangunan konflik, silang sisih persepsi antarpemain sehingga terjadi kesalahpahaman dan kekonyolan yang menggemaskan.
Kondisi itu penting agar pemain punya bekal dan imajinasi untuk mengeksplor diri. Kalau beruntung, naskah yang sederhana tapi dimainkan oleh pelawak-pelawak bagus, hasil pertunjukannya bisa sangat mengejutkan dan hidup. Ini sekadar contoh. Dalang wayang golek yang didaulat oleh produser dan sutradara untuk pegang kendali seluruh cerita dan berkolaborasi dengan pemain utama maupun bintang tamu adalah Ki Asep Sunandar Sunarya.


Program   : Wayang Golek Plus Plus
Judul         : Istri Hamil Forever
Broadcast : (d/h) TPI
Durasi       : 45 Menit
Naskah      : Darminto M Sudarmo

Pemain:
  1. Kang Ibing ………………………Suami takut istri
  2. Rieke/Desy ………………………Istri hamil tua
  3. Malih ………………………………Suami pede
  4. BTW/Figuran………………… Istri Malih yang galak
  5. BTW ………………………………. Dukun Bayi
*)BTW = bintang tamu wanita

Segment I (15 menit)
Kang Ibing mengaku bingung jadi suami. Begini salah, begitu salah. Ia bertanya pada diri sendiri, apa dirinya termasuk suami yang tidak bermutu?
Muncul Malih dengan penampilan penuh percaya diri. Ia bertanya ke Ibing kenapa kelihatan suntuk dan bingung. Ibing mengaku semua yang dilakukannya sepertinya salah di mata istrinya. Ia tak tahu harus berbuat apa. Apalagi kini istrinya hamil tua. Dia makin bingung lagi.
Malih dapat menebak masalah yang sebenarnya terjadi, “Kamu takut ama istrimu, kan? Memalukan! Suami takut istri, tidak jamannya lagi. Laki-laki harus punya harga diri!”
Muncul Istri Malih sepulang dari pasar. Melihat Malih tidak langsung pulang dan keasyikan ngobrol di jalan sama teman, istri Malih marah. Dijewernya kuping Malih untuk diajak pulang. Malih tak dapat berbuat apa-apa, kecuali meraung-raung minta ampun.
Kang Ibing makin bingung lagi. “O jadi suami yang punya harga diri, seperti itu? Klop dong, aku kan sering dijewer istriku…”

Segment II (15 menit)
Istri Kang Ibing sambil duduk di kursi tampak merintih-rintih kesakitan sambil memegang perutnya yang sudah hamil tua.
Kang Ibing muncul dan cemas melihat istri kesakitan. Belum lagi pegang perut istrinya, Kang Ibing kena semprot.
“Tau istri lagi begini, apa yang harus kamu lakukan suami tolol?”
Kang Ibing menunduk, tampak berpikir-pikir. Apa yang harus dilakukannya? Sesaat kemudian Kang Ibing justru tampak gembira. “Saya harus gembira, karena sebentar lagi anakku akan lahir!”
Istrinya marah. Kang Ibing disuruh memanggil dukun bayi. Kang Ibing kaget. Ia merasa bersalah. Benar kata istrinya, ia harus memanggil dukun bayi. Kang Ibing buru-buru out stage, tak lama kemudian masuk lagi sambil membawa dukun bayi. Dukun bayinya tergolong trendy, bawa tas medis segala.
Begitu melihat istri Kang Ibing blingsatan karena kesakitan, Dukun bayi memegang kening, perut dan pergelangan tangan (nadi). Dukun bayi menyuruh Kang Ibing menyiapkan baskom berisi air panas, handuk, tampah dan gunting.
Kang Ibing tampak panik, di mana benda-benda semacam itu harus ditemukan. Ia bergegas ke kiri, ke kanan, tak kunjung pasti. Akhirnya, ia out stage.
Dukun bayi kini mencoba membuka tas kerjanya, ternyata terkunci. Dukun bayi tampak sewot. Ia ngomel-ngomel. Kok sempat-sempatnya ada orang yang usil mengunci tas kerjanya. Sementara itu, istri kang Ibing terus merintih-rintih.
Sambil mencari peralatan di sekitar itu, akhirnya, Dukun bayi menemukan kotak berisi peralatan tukang. Setelah kotak itu dibuka, isinya: palu, tang, obeng, kunci pas, bor, gergaji mesin dan lain-lain.
Mula-mula Dukun Bayi mengambil bor, maksudnya mau digunakan untuk membuka tas kerjanya, tapi si wanita begitu melihat benda itu, langsung berteriak meraung-raung dan tertatih-tatih keluar (out stage).
Kang Ibing muncul sambil membawa handuk dan ember, melihat Dukun bayi memegang bor, langsung lemas dan terduduk di lantai dan pelan-pelan out stage.
Dukun bayi geleng-geleng kepala . Ia mengambil tas kerja, sekotak peralatan tukang lalu menyusul si Istri dan Kang Ibing.

Segment III (15 menit)
Kang Ibing memapah istrinya duduk di kursi. Sambil merintih istrinya menyalahkan Kang Ibing yang salah memanggil Dukun bayi. Kang Ibing berkilah, di desa itu hanya ada satu dukun bayi; dan dia orangnya.
Saat itu, sambil membawa bor, peralatan tukang dan tas kerjanya, Dukun bayi ngomel-ngomel ke istri kang Ibing. “Kamu itu serius mau ngelairin nggak? Kalo nggak, aku pulang saja!”
Kang Ibing buru-buru mencegah dukun pulang. Tapi Kang Ibing meminta jangan pake bor. Dukun bayi berjanji tidak pake bor.
Dukun Bayi meletakkan bor, lalu mengantinya dengan gergaji mesin; Kang Ibing kaget dan makin ketakutan. Ini lebih mengerikan daripada bor, kata Ibing pada diri sendiri. Ia kemudian bersembunyi di belakang istrinya. Sang Istri mewaspadai gerakan Dukun bayi, tentu dengan ekspresi wajah penuh rasa takut.
Dukun bayi cuek aja. Dia kembali mengurusi tas kerjanya yang tak kunjung bisa dibuka. Ia meletakkan gergaji mesin kemudian mengambil palu dan obeng. Melihat itu, si wanita tak tahan untuk tidak meraung-raung lagi. Tak terduga, Dukun bayi ternyata sibuk dengan tas kerjanya.
Beberapa saat kemudian, Dukun Bayi tampak gembira sambil menenteng tasnya yang berhasil dibukanya dengan menggunakan palu dan obeng.
“Nah, sekarang sudah bisa dibuka.”.
Dukun bayi itu kegirangan. Tak sadar sambil membawa tasnya yang tidak terkunci lagi ia berlari pulang ke rumahnya.
Kang Ibing mengintip dari belakang tempat duduk istrinya, ia merasa heran, Dukun itu ternyata tak balik lagi. Akhirnya suami istri itu hanya bisa bengong dan saling pandang. Freeze.

Rampung, dah!

No comments:

Post a Comment