Sunday, November 30, 2014

Contoh Cerita Wayang Mbeling: Antareja Si Jago Cipok

antareja
Raden Antareja

Senja itu udara diliputi mendung. Tak ada angin bertiup sepoi-sepoi basah. Yang ada desiran angin puyuh. Menerbangkan rumput kering menumbangkan ranting-ranting lapuk. Pada saat demikian, biasanya orang enggan ke luar rumah. Lebih enak tidur menekuk kaki memeluk guling. Atau tiduran berselimut bulu domba (jika punya). Tapi tidak demikian halnya dengan Raden Antareja, si putra Bima yang sulung ini. Dia baru saja lulus dari pendidikan militer yang maha dahsyat. Hasil gemblengan kakeknya sendiri Prof. Antaboga yang punya istana di bawah tanah.
Pada saat sepi yang menggigit jari itu, Raden Antareja ke luar dari bawah tanah seraya mengendarai sebuah kendaraan khusus, terbuat dari bahan-bahan yang aneh dan langka. Sebab kendaraan itu di samping mampu menggergaji tanah, juga mampu mengembalikan status tanah sebagaimana semula. Jadi nyaris sama sekali tak berjejak. Dan ini jelas tidak menyalahi slogan pemerintah tentang pelestarian alam dan lingkungan hidup.

Menantang Sinema Wayang Indonesia

animasi
Animasi Kresna

SALAH satu program acara “Mahabharata” yang mengangkat tema wayang di sebuah stasiun TV terlihat sukses dan gegap gembita. Sinema produk India yang sedang tayang kali ini memang memiliki sisi pandang berbeda dibandingkan dengan produk serupa berjudul sama yang pernah tayang di TPI, beberapa tahun lalu.

Sembilan Cara Merukunkan DPR


dpricuh
Suasana Ricuh di DPR RI

1. Diperlukan figur semacam Ibu Kasur dan Pak Kasur untuk mengajak mereka nyanyi bersama-sama. Supaya hidup tetap ceria.

2. Perlu mendatangkan Juru Dongeng dengan cerita para pahlawan bangsa, para pendiri bangsa yang rela berkorban tenaga, harta-benda, bahkan nyawa untuk mewujudkan cita-cita Republik Indonesia. Supaya ngeh, bahwa memimpin itu, menderita.

Pelawak, Narkoba, dan Mintilihir

tessy
Tessy
Tessy beberapa hari ini banyak diberitakan media kaitannya dengan kasus penyalahgunaan narkoba. Sebelumnya Gogon, Polo, Doyok, juga (pernah) kena urusan perkara yang sama. Mengapa pelawak “banyak” yang terjerumus ke dalam cengkeraman penyalahgunaan narkoba? Ini menarik. Karena pertanyaan tersebut sebenarnya perlu diperlebar lagi, emang artis-artis lain, enggak? Emang para remaja dan masyarakat umum, enggak? Emang pejabat anu, para elit anu, petugas anu, enggak?
Itu artinya, pertanyaan yang mempertanyakan mengapa para pelawak banyak terjerat kasus narkoba hanya bagian dari fenomena dan ekses dari sebuah serbuan gaya hidup orang-orang kota yang tak dapat mengelak dari perangkap tersebut. Pertanyaan mengapa pelawak, hanya persoalan spesifik. Ia bisa melabar ke pertanyaan: mengapa artis, mengapa pejabat, mengapa petugas, mengapa para elit?