Sunday, November 30, 2014

Pelawak, Narkoba, dan Mintilihir

tessy
Tessy
Tessy beberapa hari ini banyak diberitakan media kaitannya dengan kasus penyalahgunaan narkoba. Sebelumnya Gogon, Polo, Doyok, juga (pernah) kena urusan perkara yang sama. Mengapa pelawak “banyak” yang terjerumus ke dalam cengkeraman penyalahgunaan narkoba? Ini menarik. Karena pertanyaan tersebut sebenarnya perlu diperlebar lagi, emang artis-artis lain, enggak? Emang para remaja dan masyarakat umum, enggak? Emang pejabat anu, para elit anu, petugas anu, enggak?
Itu artinya, pertanyaan yang mempertanyakan mengapa para pelawak banyak terjerat kasus narkoba hanya bagian dari fenomena dan ekses dari sebuah serbuan gaya hidup orang-orang kota yang tak dapat mengelak dari perangkap tersebut. Pertanyaan mengapa pelawak, hanya persoalan spesifik. Ia bisa melabar ke pertanyaan: mengapa artis, mengapa pejabat, mengapa petugas, mengapa para elit?

Pada akhirnya, pertanyaan akan menjadi sangat lebar dan luas, mengapa orang/masyarakat tertarik memakai narkoba? Secara umum, para ahli sudah merumuskan semua jawaban terkait dengan pertanyaan tersebut ditinjau dari berbagai aspek, seperti aspek: diri (individu), lingkungan dan aspek ketersediaan narkoba. Jawaban-jawabannya sangat normatif dan luas. Semua informasi tersebut dengan mudah dapat diakses di mesin pencari data publik yang ada di internet.
Mengapa orang/masyarakat tertarik memakai narkoba?
Pertama, dari faktor Diri (individu) secara biologis, bukti menunjukkan bahwa faktor genetik berperan pada alkoholisme serta beberapa bentuk perilaku menyimpang, termasuk penyalahgunaan zat berbahaya. Dari segi psikologis, sebagian besar penyalahgunaan obat dimulai pada masa remaja, masa-masa rentan pencarian eksistensi diri.
Menurut seorang ahli, ada lima faktor (dapat berdiri sendiri atau terkait satu sama lain) untuk menjelaskan mengapa seseorang bisa menjadi penyalahguna obat terlarang, sedang orang lain tidak:
  1. Kebutuhan untuk menekan rasa frustrasi dan dorongan agresif serta ketidakmampuan menunda kepuasan.
  2. Tidak ada identifikasi seksual yang jelas.
  3. Kurang kesadaran dan upaya untuk mencapai tujuan-tujuan yang bisa diterima secara sosial.
  4. Perilaku yang menyerempet bahaya untuk menunjukkan kemampuan diri.
  5. Menekan/melarikan diri dari rasa bosan.
Secara umum, dari berbagai sumber yang ada, dapat dirumuskan dari faktor diri atau individu, mengapa orang tertarik memakai narkoba?
  • Rasa ingin tahu yang besar untuk mencoba, tanpa sadar atau berfikir panjang tentang akibatnya di kemudian hari.
  • Keinginan untuk mencoba-coba kerena penasaran.
  • Keinginan untuk bersenang-senang.
  • Keinginan untuk dapat diterima dalam satu kelompok (komunitas) atau lingkungan tertentu.
  • Workaholic, agar terus beraktivitas maka menggunakan stimulant (perangsang).
  • Lari dari masalah, kebosanan, atau kegetiran hidup.
  • Mengalami kelelahan dan menurunya semangat belajar.
  • Menderita kecemasan dan kegetiran.
  • Kecanduan merokok dan minuman keras. Dua hal ini merupakan gerbang ke arah penyalahgunaan narkoba.
  • Karena ingin menghibur diri dan menikmati hidup sepuas-puasnya.
  • Upaya untuk menurunkan berat badan atau kegemukan dengan menggunakan obat penghilang rasa lapar yang berlebihan.
  • Merasa tidak dapat perhatian, tidak diterima atau tidak disayangi, dalam lingkungan keluarga atau lingkungan pergaulan.
  • Ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan.
  • Ketidaktahuan tentang dampak dan bahaya penyalahgunaan narkoba.
  • Pengertian yang salah bahwa mencoba narkoba sekali-kali tidak akan menimbulkan masalah.
  • Tidak mampu atau tidak berani menghadapi tekanan dari lingkungan atau kelompok pergaulan untuk menggunakan narkoba.
  • Tidak dapat atau tidak mampu berkata TIDAK pada narkoba.
Sedangkan dari Faktor Lingkungan:
  • Keluarga bermasalah atau broken home.
  • Ayah, ibu atau keduanya atau saudara menjadi pengguna atau penyalahguna atau bahkan pengedar gelap nrkoba.
  • Lingkungan pergaulan atau komunitas yang salah satu atau beberapa atau bahkan semua anggotanya menjadi penyalahguna atau pengedar gelap narkoba.
  • Sering berkunjung ke tempat hiburan (cafĂ©, diskotik, karoeke, dll.).
  • Mempunyai banyak waktu luang, putus sekolah atau menganggur.
  • Lingkungan keluarga yang kurang / tidak harmonis.
  • Lingkungan keluarga di mana tidak ada kasih sayang, komunikasi, keterbukaan, perhatian, dan saling menghargai di antara anggotanya.
  • Orang tua yang otoriter.
  • Orang tua/keluarga yang permisif, tidak acuh, serba boleh, kurang/tanpa pengawasan.
  • Orang tua/keluarga yang super sibuk mencari uang/di luar rumah.
  • Lingkungan sosial yang penuh persaingan dan ketidakpastian.
  • Kehidupan perkotaan yang hiruk pikuk, orang tidak dikenal secara pribadi, tidak ada hubungan primer, ketidakacuhan, hilangnya pengawasan sosial dari masyarakat, kemacetan lalu lintas, kekumuhan, pelayanan publik yang buruk, dan tingginya tingkat kriminalitas.
  • Kemiskinan, pengangguran, putus sekolah, dan keterlantaran.
Dari Faktor Ketersediaan Narkoba. Narkoba itu sendiri menjadi faktor pendorong bagi seseorang untuk memakai narkoba karena:
  • Narkoba semakin mudah didapat dan dibeli.
  • Harga narkoba semakin murah dan dijangkau oleh daya beli masyarakat.
  • Narkoba semakin beragam dalam jenis, cara pemakaian, dan bentuk kemasan.
  • Modus Operandi Tindak pidana narkoba makin sulit diungkap aparat hukum.
  • Masih banyak laboratorium gelap narkoba yang belum terungkap.
  • Sulit terungkapnya kejahatan computer dan pencucian uang yang bisa membantu bisnis perdagangan gelap narkoba.
  • Semakin mudahnya akses internet yang memberikan informasi pembuatan narkoba.
  • Bisnis narkoba menjanjikan keuntugan yang besar.
  • Perdagangan narkoba dikendalikan oleh sindikat yagn kuat dan professional. Bahan dasar narkoba (prekursor) beredar bebas di masyarakat.
Penjelasan normatif dan standar di atas memang layak jadi acuan, tetapi akan lebih menyentuh masalah yang lebih esensial bila para ahli (psikolog, psikiater, dokter, sosiolog, dll) juga ambil bagian untuk melakukan penelitian yang lebih komprehensif, khususnya pengguna narkoba yang dilakukan oleh orang-orang kreatif (pekerja kreatif) seperti pelawak, artis (sinetron, penyanyi, dll), pemusik, seniman (perupa), pengarang (penulis), cendekiawan (kalau ada), budayawan,wartawan dst. dst. Ada apa dengan mereka?
Apakah motif mereka mengunsumsi sama persis dengan kategori2 yang ditampilkan di atas? Misalnya cara menggunakan waktu yang hanya untuk bersenang-senang? Atau narkoba digunakan sebagai doping untuk berbagai urusan yang datang bersamaan, sementara stamina normalnya tak mampu mendukung secara maksimal?
Kesimpulan para ahli terdahulu tentang orang-orang kreatif yang dari “sono”-nya memang membawa potensi negative capability, sebuah potensi yang menjadi pendorong lahirnya karya-karya hebat (bila dikelola sang kreator dengan baik dan benar) atau sebaliknya, menjadi lahirnya MALAPETAKA sosial bila terjadi salah kelola dan urus. Dua sisi madu dan racun yang sangat krusial dan rentan reaksi sosial, perlu dipahami masyarakat karena memiliki anatomi yang berbeda dengan para konsumen narkoba lainnya.
Kasus Tessy dan para pelawak lain, termasuk para artis dan pekerja seni atau kreatif, menantang para ahli untuk menguak tabir yang tak kunjung terbuka itu, agar supaya rasa penasaran masyarakat tidak berlarut-larut dan agar semua perkara segera clear dan mintilihirrrrr!
Malah ada yang berpendapat rada keras, kasus Tessy adalah bagian dari pemberontakan sistem industri budaya pertelevisian kita yang makin liberal tak terkendali; salah satu buktinya adalah kebijakan program acara striping, yang hanya mengakomodasi seorang pelawak atau sekelompok pelawak dalam seminggu tujuh hari, sebulan 30/31 hari, setahun 365 hari secara terus-menerus sementara pelawak lain, yang tak dilibatkan, tak tersedia job sama sekali. Benarkah? (Odios Arminto)

No comments:

Post a Comment